Wound In Shibuya
Oleh: Diva Faradilla VIII-I
Malam ini pemandangan di kota Shibuya sama seperti malam - malam sebelumnya. Hiruk pikuk kota tetap terlihat, meskipun salju terus mengguyur selama bulan Desember ini. Gemerlap lampu jalan dan gedung-gedung tinggi kontras kulihat dengan mataku sendiri. Aku ingin berbaur bersama mereka, menikmati keindahan malam di Shibuya, salah satu kota pusat perbelanjaan di Jepang. Tapi apa daya , sudah hampir 5 hari aku terbaring di rumah sakit. Bertemakan riuhnya kota ini lewat bingkai jendela.
Tiba-tiba ada suara ketukan pintu. Aku yang menyadarinya segera menyuruh orang itu masuk dengan teriakan. Saat pintu perlahan terbuka, aku melihat dua orang yang wajahnya familiar di mataku.
“Maaf, Vei… kita baru bisa datang malam-malam begini.” Prisha membuka pembicaraan di antara kami bertiga.
“Tadi kami mampir ke Tokyo dulu sebelum akhirnya ke Shibuya.” tambah Davin seraya melepas shal dan mantelnya.
Mereka berdua adalah sahabatku , sekaligus partner seperjuangan di negeri Sakura ini. Sudah lama kami tinggal di Jepang dan mengukir kisah – kisah dengan indahnya persahabatan. Namun, memang tidak bisa dipungkiri, kalau ditengah – tengah persahabatan kami ada perasaan cinta . Ya, aku dan Prisha sama – sama menyukai Davin. Tapi tak mungkin kami utarakan hal ini pada Davin. Yang ada hanyalah hancurnya persahabatan kami jika hal ini terbongkar.
“ Kapan kamu pulang? ” Tanya Prisha penuh kepedulian.
“ Mungkin besok lusa. Aku harus melewati beberapa tahap pemeriksaan dokter. “ jawabku seadanya.
“ Prosedur rumah sakit ini memang merepotkan.” Davin memberikan pendapat. Aku dan Prisha tersenyum seraya mengangguk setuju. Seketika aku rindu pada Indonesia. Bentuk prosedur di rumah sakitnya memang berbeda. Aku mendesah, kemudian menerawang ke luar jendela. Kulihat ada bendera merah putih sedang berkibar melawan turunnya salju di antara berbagai macam bendera yang lain.
Hari ini aku dapat menghirup udara luar dengan leluasa, setelah cukup lama mendekam di rumah sakit. Aku sendiri tak tahu tujuannya kemana. Davin dan Prisha yang mengajakku ke kota Shibuya dan merahasiakan tujuan kami.
“Apa masih jauh ?” aku bersungut kesal karena hampir 15 menit lamanya kita berputar – putar di Shibuya.
“Sebentar lagi. Sudah, kamu diam saja! Davin mengedipkan matanya seakan meyakinkanku. Aku menggaruk kepalaku.
Lalu kami berjalan kembali, menyusuri hiruk pikuk kota ini. Ada sebuah papan yang bertuliskan nama sebuah restaurant Jepang di depan kami. Langkah kami terhenti di depan restaurant itu.
“ Ayo masuk ! “ Prisha mendorong pundakku.
“ Kita mau makan ? “ tanyaku masih linglung.
“ Iya ! Ayo cepat masuk ! “
Dengan gontai aku memasuki restaurant Jepang itu. Sebenarnya aku tak suka dengan makanan Jepang. Yang terbayang di benakku ketika mendengar kata Japanessfood adalah sushi. Ikan mentah yang umumnya disajikan dengan seaweed. Kalau saja tidak karena beasiswa sekolahku di Jepang ini, aku tidak akan mau makan makanan Jepang.
“Kamu mau pesan apa ?“ Tanya Davin padaku. Aku menggeleng cepat.
“A…aku gak makan. Nanti saja di apartement“ sangkalku.
“ Loh, kenapa nggak makan?“ tanya Davin lagi.
“Aku nggak suka Japanessfood. Maaf ! “ balasku ragu – ragu.
“Oh…ng..iya.” Davin merespon canggung.
Tiba - tiba Prisha memukul pundak Davin. Ia tersenyum penuh seringai.
“Sudah kukatakan ,Vin! Veiya nggak suka makanan Jepang. Dari pada ke restaurant Jepang, dia lebih suka ke restaurant Paparazi. Ya kan, Vei? “jelas Prisha runtut. Aku yang ditanya segera mangagguk.
“Oh ,sorry aku nggak tahu.” Kata Davin penuh sesal.
“nggak pa-pa.”sahutku datar.
“nah, sekarang... kalian berdua rundingan. tetap di restaurant Jepang ini atau pindah ke restaurant lain..??” usul Prisha.
“ kamu mau ke mana ? “ tanyaku melihat prisha melangkah meninggalakan kami..
“aku ke toilet sebentar . daaahhhh.... “ Prisha melambaikan tangannya kemudian menghilang di antara kerumunan pengunjung reataurant ini. Dan aku mendesah kembali ke posisi duduk ku semula.
“Vin ... kalau kamu mau tetap di sini, nggak apa-apa kok .” ucapku membuka pembicaran. Tak ada respon dari Davin, ia hanya menunduk.
“Sungguh ! nggak apa – apa kok vin. Aku mau sekali – kali mencoba ma...”
“Veiya ! “Davin memotong perkataanku tiba – tiba. Aku tertegun melihat tingkahnya.
“Aku ingin jujur padamu, vei.” Kata Davin seraya menatapku serius.
“Da...Davin, apa maksudmu ?”
“Vei, aku cinta kamu !”
Seakan tersambar petir sungguh tak kusangka Davin mengucapkan kata - kata itu padaku. Sebenarnya hal inilah yang kutunggu-tunggu. Namun mustahil, tak mungkin bagiku untuk menjawab “iya”.
“Vin, jangan bodoh! bukankah kamu pernah bilang sendiri kalau persahabatan itu lebih kekal dari pada cinta ? “
“Aku tahu dan aku masih ingat. Tapi inilah isi hatiku selama ini. Tak mungkin rasanya untuk kupendam terus – menerus.”
“Dalam persahabatan pasti ada cinta. Tapi di dalam cinta belum tentu ada persahabatan.”
“ ku tahu,Vei...tapi aku terlanjur mencintaimu. Jika aku pendam rasa ini terlalu lama, hatiku pasti tersiksa,vei. Jadi kumohon, kumohon jawabanmu...”
Aku mendesah. Rasanya air mataku ingin mengalir bersama kebimbangan ini. Aku bingung, takut mengecewakan Davin ataupun Prisha.
“Vin...maaf, aku...”
PLAK ! sebuah tamparan tiba- tiba bersarang di wajah Davin. Aku secepatnya menoleh. Ternyata Prisha, kulihat matanya sembab oleh air mata.
“Kamu penghianat! bukannya kamu sendiri yang melarang ada perasaan cinta di antara persahabatan kita bertiga ? ”
Davin terdiam,kalut. Tangannya mengelus – ngelus pipi kanan bekas tamparan tadi. Aku tahu, mungkin dia bingung harus menjawab apa.
“Aku pun sama sepertimu. Aku juga memendam perasaan cinta selama ini. Tapi aku nggak pernah mengungkapkannya,vin ! Aku nggak mau persahabatan kita berantakan karena hal ini ! ! !”
“Prisha......’’ Davin beranjak dari tempat duduknya. Dengan tenang ia memegang pundak Prisha. Sesekali pun Davin menyeka air mata Prisha yang mengalir pelan di pipinya.
“Maaf.....cinta berhasil membutakan aku.” Ungkap Davin menyesal. Prisha tak menjawab, ia hanya menangis seraya mengigit jari.
“Baiklah, sekarang kamu nggak usah naik lagi. Kita selesaikan ini baik – baik.” Davin berusaha menetralkan perasaan berkecamuk Prisha.
“Vin.....aku mungkin ndak sefanatik ini kalau saja aku nggak cinta sama kamu ! iya, Vin ! selama ini aku cinta sama kamu !!!” setelah berkata seperti itu Prisha pergi. Ia berlari meninggalkan Davin dan aku disini. Hanya perasaan canggung yang menghias kebisuan kami. Aku pun tak tahu harus bertindak apa.
Tanpa pikir panjang , Davin segera berlari menyusul Prisha.
“Prisha! tunggu!!!” panggil Davin dan berusaha mengejar Prisha. Sedangkan Prisha tak peduli, ia berlari menghindari Davin.
Tiba-tiba ada dua mobil Polisi yang melintas di sampingku. Aku yang terkejut berusaha mencari tahu akan kemana kedua mobil itu. Dan ternyata mobil itu berhenti dan lima orang polisi keluar dari dalamnya.
“Hei, ada apa ini ?” tanya Davin bingung.
Kelima Polisi itu menodongkan Pistol ke arah Prisha. Aku semakin tak mengerti kenapa Prisha dikepung Polisi seperti buronan. Apa Prisha pernah berbuat kejahatan di Jepang? tapi apa....apa kejahatan itu?
“Berhenti! kamu sudah kami kepung!” ancam salah satu Polisi dengan berbahasa Jepang. Prisha terperanjat kaget. Apa lagi aku dan Davin.
“Apa salah dia, Pak ? tanya Davin bingung. Sedangkan orang – orang yang berlalu lalang di Shibuya mengerumuni kami.
“Wanita ini sudah mencuri di Bank Tokyo dan Shibuya. “ aku kaget dan sama sekali tak percaya. Mencuri ? Prisha mencuri??
Prisha yang ketakutan sembunyi di balik tubuh Davin. Dengan sigap. Davin melindungi Prisha dari todongan senjata kelima polisi di depannya.
“Minggir kau ! dia buronan kami !” sentak salah satu Polisi kepada Davin.
“Kita selesaikan masalah ini baik – baik, Pak ! “ Davin berusaha membela Prisha. Sedangkan aku, aku hanya diam diantara kerumunan orang. Aku bingung dengan keadaan ini, sangat bingung.
Tanpa disangka, ternyata Prisha berusaha kabur dari kepungan Polisi itu. Dia berlari secepatnya menembus kerumunan orang. Kelima Polisi yang menyadari buronannya pergi, segera mengejar Prisha.
“Prisha ! awas !!! Davin berteriak -teriak melihat Polisi – polisi itu menodongkon pistol ke arah Prisha. Davin berusaha melindungi Prisha. Dan.... Dor !!! tanpa diduga, lima peluru langsung bersarang di tubuh Davin. Davin terjatuh terkulai diantara tumpukan salju. Ia mengerang kesakitan.
“Davin.....” aku menggerang sekerasnya. Tanganku memeluk tubuh Davin yang berlumuran darah.
“Andai aku tak katakan perasaan itu, mungkin ini tidak akan terjadi...”ucap Davin lemas. Aku menatap mata Davin.
“ Vin ....kamu harus kuat ,Vin ! Demi persahabatan kita !” tangisku pecah seraya menggenggam tangan Davin. Seakan ia akan menangis.....
“Maafkan aku, Vei. Aku nggak kuat lagi !”
“Vin! jangan bicara seperti itu!!!
Salju turun dengan derasnya.....seiring turunnya malaikat yang akan mengambil nyawa Davin. Kini mata Davin telah tertutup....hanya meninggalkan jasadnya dengan darah yang mengalir deras.
“Daviiin!!! “ aku menggerang tak karuan, seraya menggoyang – goyang jasad Davin. Yang kini tergeletak diatas salju yang terkena noda darah. Sekarang, aku kehilangan sahabat sekaligus orang yang ku cintai.
“Veiya!” aku menoleh kebelakang setelah ada yang memanggil ku. Ternyata Prisha , kulihat Polisi telah menangkapnya.
“Vei, maafkan aku ! selama ini aku tahu kalau Davin juga cinta sama kamu ! Maka itu aku mencuri uang di Bank dengan menyamar sebagai kamu. Aku ingin sekali kamu di tangkap dan jauh dari Davin. Tapi ternyata ....? ternyata rencanaku berbalik !”
Aku tertegun tak percaya mendengar pernyataan Prisha . Kenapa Prisha begitu tega melakukan ini kepadaku ? kenapa dia punya niat jahat untukku......
“Vei! maafkan aku ! aku merusak persahabatan kita ! aku merusak cinta kalian ! aku merusak mimpi kita untuk menyelesaikan study bersama di Jepang ! Aku bukan orang yang tepat untuk kau jadikan sahabat !!!”
“Prisha......”
Prisha terus ditarik kedalam mobil. Tak ada yang bisa menolongnya, termasuk aku. Yang terjadi biarlah terjadi, tak ada yang bisa disesali.....
“Maaf. Sebentar lagi ambulans akan datang dan membawa teman anda kerumah sakit. Setelah urusan kami selesai , kami akan menyusulnya untuk tanggung jawab. “ tiba – tiba salah seorang Polisi menghampiriku. Aku hanya menangis seraya mendekap jasad Davin.
Di Shibuya kota yang bagiku amat indah, kota yang aku jadikan tempat harapan dan cita-citaku, kini justru membuatku kehilangan kedua sahabatku, Davin dan Prisha. Di Shibuya adalah saksi pertemuan kami bertiga sebelum akhirnya berpisah. Kemudian, mataku menatap sebuah bendera merah putih yang berkibar. Aku merindukan Indonesia dan aku menyesal tak bisa membawa sahabatku kembali pulang ke Indonesia.



