BULAN SABIT DALAM JANTUNGKU

Oleh: Atiqoh IX-G

New_Picture_2Aku duduk sejenak dan mengingat kehidupanku sejak aku menginjakkan kaki di Paris, waktu itu umurku sekitar lima tahun. Kami sekeluarga pindah ke Paris, karena ayahku mendapat pekerjaan yang lebih baik daripada di Irlandia, Negara asal kami. Ibu menyekolahkanku di taman kanak-kanak terpencil di pinggiran kota Paris, maklum, kami memang keluarga sederhana. Tetapi setahun kemudian kami pindah ke Indonesia, karena ayahku dipindahkan oleh kantornya, tepatnya di tengah keramaian Yogyakarta. Di Indonesia, ibu menyekolahkanku ke salah satu sekolah dasar favorit di Yogya. Di sekolah, aku termasuk murid yang ber-IQ tinggi, meskipun aku tidak bisa sama sekali bahasa Indonesia, aku tidak kesulitan dalam pelajaran, sebab aku termasuk anak kelas unggulan, yang selama pelajaran wajib berbahasa Inggris, tapi lama kelamaan aku lancar berbahasa Indonesia.

Setelah tiga tahun hidup di Indonesia, kedua orang tuaku sering cek-cok, entah apa yang mereka ributkan. Ayah pergi dari rumah dan ibu menjadi seorang pemabuk. Sejak saat itu, tepatnya umurku 9 tahun, kehidupan "baru"ku dimulai. Aku memang mempunyai banyak teman dari setiap golongan, tapi aku jarang mau berurusan dengan mereka termasuk anak jalanan. Tapi lama kelamaan aku akrab dengan temanku dari anak jalanan karena kehidupan mereka yang unik. Aku mulai mempraktikkan kebiasaan cepat mereka dalam mencari uang, seperti mencopet dan mencuri di pertokoan. Ini kulakukan semenjak ayah pergi karena aku tidak pernah memiliki uang saku, meskipun ibu tidak pernah mengabaikan pembayaran sekolahku. Jika pagi aku pergi kesekolah dengan notabene anak berprestasi, tapi menjelang sore hingga malam aku berubah menjadi pencuri ulung, mencuri biasa aku lakukan di kepadatan Malioboro, aku sengaja mengambil bagian di keramaian di ujung Malioboro, jauh dari teman-temanku yang biasanya beraksi di tengah Malioboro, lagipula tidak akan ada yang menyangka aku tukang jambret, karena keuntungan wajah dan postur tubuhku yang pasti akan dianggap bule kaya raya yang sedang melancong oleh seluruh orang, meskipun usiaku masih sangat anak-anak. Ini tentu saja aku rahasiakan dari siapapun, apalagi teman sekolahku, karena aku tidak mau menghancurkan reputasiku sebagai anak pintar, kecuali kepada teman sesama pencuri. Meskipun begitu, temanku yang sesama pencuri menaruh hormat kepadaku, karena kepandaian otakku dan sekolahku yang terbilang favorit, selain itu karena kecerdikanku dalam masalah pencurian, serta ukuran tubuhku yang terbilang besar pada anak seusiaku. Wajahku yang tampan khas Eropa dan rambutku yang pirang kehitaman, membuatku digilai banyak cewek yang mengenalku, tapi aku tidak berminat sama sekali dengan perempuan Asia.

Prestasiku di sekolah kian meningkat hingga akhirnya mencapai tingkat teratas. Ibuku gembira bukan main atas prestasiku ini, ibu memasak banyak sekali makanan, sepertinya seluruh bahan dan bumbu di dapur dimasak oleh ibu lalu membagikan ke semua tetangga. Aku tidak tau dari mana ibu menafkahiku semenjak ayah pergi, yang jelas, ibu selalu bangga dengan anaknya yang pintar ini. Meski ayah minggat dan ibu pemabuk, aku tidak pernah bisa membenci mereka, aku sangat mencintai mereka. Setahun kemudian ayah tiba-tiba datang dan memaksaku ikut beliau ke Paris, aku menurut saja lagipula ibu memperbolehkanku. Di Paris, ayah hanya menemaniku dua hari hingga aku masuk ke sekolah yang baru. Selebihnya dia jarang pulang ke rumah kami dipinggiran kota Paris. Aku juga tergolong anak cerdas di sekolah baru ini, hingga suatu hari aku berkenalan dengan sekelompok geng yang biasa nongkrong di market Paris. Abdel, nama ketua geng, dia berkulit hitam dan berwajah sangar tapi tampangnya lumayanlah buat orang kulit hitam. Aku ikut-ikutan mencuri di swalayan-swalayan Paris bersama mereka meski aku tidak masuk geng mereka.

Seperti kebiasaan sebelumnya, setiap pagi aku pergi ke sekolah sebagai anak berprestasi, lalu menjelang malam aku mencuri setiap kantong tebal milik pengunjung market bersama gengnya Abdel. Selain mencuri, Abdel dan kawannya menjadi sindikat penjualan narkotik, tidak hanya itu, mereka juga pecandu berat. Aku tidak ingin mengambil resiko besar dengan menjadi pengedar pula, karena jika diketahui aparat hukum, hukumannya sangat berat apalagi menjadi pecandu, resikonya sangat berbahaya. Aku tidak ingin keahlianku mencuri uang banyak terhalang gara-gara menjadi pecandu atau kemampuanku berpikir yang cerdas di sekolah terganggu, apalagi labelku sudah mencapai bintang sekolah.

Suatu malam aku lewati tempat ibadah orang muslim, temanku di pinggiran kota yang kebanyakan muslim Maroko atau Magreb menyebutnya Masjid, aku hanya sekedar tahu. Tapi aku berhenti ketika mendengar teriakan orang dari dalam Masjid itu menggunakan mike speaker, "apa orang itu sudah sinting, kenapa dibiarkan masuk ke rumah ibadat?" tanyaku dalam hati. Aku mendekat ke gerbang Masjid untuk mengetahui apa yang terjadi, aku makin mendekat ke pintu masuk karena orang itu terus berteriak ala orang gila. Ketika akan masuk, aku ditanya seseorang dari samnpingku seolah dia mencegatku masuk. "Ada perlu apa nak, masuk kesini?" Tanya orang yang berpakaian putih panjang itu, "saya ingin tahu mengapa orang itu berteriak di speaker pak!" jawabku. Pria itu tersenyum, wajahnya terlihat lembut dan seperti berbeda, entah apa yang membuatnya berbeda dari sekian banyak orang yang kutemui, tapi aku senang sekali melihatnya. Kemudian dia berkata "oh, itu suara adzan anakku, panggilan sholat untuk orang muslim", dia tersenyum ramah sekali. Namun aku bingung,"apa itu sholat?" tanyaku lagi. "Ibadah orang muslim untuk sang pencipta, Allahu Ahad" jawabnya. Aku hanya manggut-manggut , lalu ku dengar orang itu berteriak lagi. "kenapa dia adzan lagi?" tanyaku pada pria itu. "itu Iqomah anakku, pertanda sholat akan segera dimulai", jawabnya lagi dengan senyuman. Aku makin deg-degan melihat senyumannya. "Aku akan sholat nak, sampai jumpa lagi", kata pria itu. "ya silahkan", jawabku. Aku berdiri mematung melihat orang-orang Islam itu baris berdiri rapi sekali.

Pagi-pagi sekali aku pulang dan melihat Ayah hendak pergi bekerja. Ayah terkejut melihat toube yang kukenakan, segera aku bilang bahwa aku telah menjadi seorang muslim. Ayah hanya mengangkat sebelah alisnya dan berkata "oke, tidak masalah, aku bisa apa!" kemudian beliau berangkat kerja. Aku lega beliau tidak marah. Kemudian aku berangkat ke sekolah. Di sekolah, aku lebih banyak menunduk karena banyak sekali kemaksiatan, seorang temanku mendekat dan bertanya mengapa aku selalu menunduk, aku hanya mengangkat bahu. Sekarang aku benci semua perempuan sekolah karena mereka memakai rok satu jengkal di atas lutut.

Aku selalu bermimpi menjadi pengusaha kaya raya yang sukses. Meskipun aku tergolong anak pintar, hidupku tidak mudah. Ayah yang menganggapku penting bila diperlukan membuatku dulu suka mencuri karena tak punya uang, tapi sekarang tidak lagi. Aku juga sering berkelahi dengan temanku karena menolak tawaran narkotikanya. Setelah lulus sekolah junior high school, aku memohon pada ayah untuk tinggal di Indonesia bersama Ibu yang sudah menjadi warga Negara Indonesia. Di Indonesia, ibu senang sekali mendengarku menjadi muslim karena dirinya sendiri telah muslimah. Ibu segera mengurus keperluanku menjadi WNI kemudian menyekolahkanku di pesantren di Jawa Tengah. Aku juga bersekolah formal di Madrasah Aliyah.

Di pesantren, semua manusia sepertinya terpana melihat santri sepertiku, maklumlah orang bule. Tempat baru ini membuatku mengerti tentang hidup sebenarnya dan sepertinya tempat ini akan membawaku pada cita-cita yang dari dulu kucari, yaitu kebahagiaan. Semua niat, kulakukan dalam diri dengan niat suci yang tulus karena segala sesuatu itu tergantung niatnya. Aku selalu teringat bengisnya dosa-dosaku masa lampau, setiap malam aku menangis. Dan malam itu, saat sholat tahajjud aku teringat penjelasan pak Kyai tentang adanya sebuah pintu gerbang di kutub barat seluas 40 atau 70 tahun perjalanan, dan gerbang itu diciptakan oleh Allah sejak diciptakannya langit dan bumi, ia selalu terbuka untuk menerima taubat, tidak akan ditutup sebelum matahari terbit dari sana. Hadits ini terngiang di telingaku saat ku berdo'a, dan malam itu seakan-akan aku melihat gerbang itu di depan mata, terlihat nyata membuat aku terperangah lalu aku tertidur pulas.

Hatiku sering terasa sakit banyak teman pesantren menyebutkan mantan kafir, lebih tepatnya "kafir" jika "mantan kafir" aku masih bisa terima karena aku memang mantan kafir. jika "kafir" aku marah sekali meskipun itu olok-olokan biasa, menyindir ataupun bercanda. Ingin rasanya kuhajar mereka, tapi selalu kutahan karena kutahu Rasulullah SAW menyuruh kita untuk tidak marah. Tetapi teman yang jahat sedikit, bisa dihitung dengan jari, selebihnya bisa dibilang orang saleh.

Tapi Oke, itu tidak masalah. Apalagi setelah kejadian malam itu, aku lebih bisa bersabar. Aku juga lebih senang membantu pekerjaan di rumah Pak Kyai. Diam-diam aku salut pada Kyai Haji Muhammad, pemilik pesantren yang aku tempati. Kyai Haji Muhammad selalu menebar keramahan pada siapapun, sabar mengajari ilmu kepada santri-santrinya, dan yang paling mengejutkan hatiku, wajah pak Kyai yang bersinar seakan terpancar cahaya serta meluluhkan hati setiap mata yang memandangnya.

Di pesantren ini aku belajar dengan sungguh-sungguh agar tidak tertinggal dengan santri lainya apalagi pelajaran agama dan kitab berbahasa arab. Dengan cepat seperti kilat, kecerdasanku yang luar biasa menyebar ke seluruh pesantren baik di asrama maupun di madrasah aliyah. tapi tidak ada masalah bukan? karena ini memang pemberian sang pencipta. Aku berhasil menjadikan nilaiku tertinggi di kelas hanya dalam waktu beberapa minggu saja. Semua orang, tua-muda, kecil-besar menjadi hormat padaku. Tapi aku tidak sombong. Jujur kuakui aku tidak sombong, aku merasa geli melakukanya dan kupikir itu tindakan konyol sekali. Teman yang biasanya mengolok-olok aku, mendadak berhenti dan sepertinya mereka segan kepadaku.

Senja itu aku pergi ke sungai berbatu yang letaknya jauh dari pesantren, cukup indah tempatnya untuk menghilangkan kejenuhan. Menunggu waktu magrib tiba, aku duduk di atas bebatuan tepi sungai memandang langit. Bulan muncul berbentuk sabit mengingatkanku pada bulan sabit di atas Eiffel yang sering kulihat dahulu. Aku bangkit mengambil air wudlu di sungai yang jernih dan segar itu untuk shalat magrib. Aku berusaha sholat khusyu' di atas batu yang lebar panjang dan di atas kemudian aku berdo'a sambil memejamkan mata, disela munajatku aku melihat seorang yang tampan dan sekelilingku menjadi pemandangan yang Subhanallah, aku sulit untuk mengambarkan, aku melihatnya dengan keadaan memejamkan mata seperti mimpi tapi itu bukan mimpi aku sadar, tetapi sulit membuka mata. Aku juga melihat aku berada di sana, tapi aku kan di sini entahlah aku juga melihat diriku menyalimi seorang yang tampan tadi, dia tersenyum kepadaku dan aku merasakan bagian bawah jempol tangan laki-laki itu kenyal serasa tidak bertulang, kemudian dia pergi dan aku membuka mata perlahan. Aku mencoba mengingat siapa orang itu, tapi aku tidak mengenalnya dan tanganya yang lembek, "Masya Allah", aku baru ingat cerita Kyai Haji Muhammad beberapa hari lalu, itu ciri-ciri Nabi Khidir, dan aku dengan sejuta keberuntunganku bisa bersalaman dengan Nabi Khidir meskipun aku tidak tahu itu mimpi atau sungguhan.

Aku menatap langit malam mendengarkan bunyi aliran sungai. Aku melihat bulan sabit terang berkilau di langit sana. Bulan sabit yang selalu terdapat di kubah dan menara masjid, lambang Islam. Bulan sabit selalu mengingatkan mungkin setiap orang kepada Allah, menenteramkan hatiku, aku telah menemukan cita-citaku, kebahagiaan yang damai, tapi aku sekarang harus mencarinya dan aku harus berdzikir kepada Rabbi-ku, Allah yang memiliki jiwa ragaku, Allah yang selalu di dalam ulu hatiku, jantungku terdalam. Kemudian aku beranjak berwudlu menunaikan sholat isya'.

* Karya tulis juara I hasil lomba Perpustakaan MTsN Tambakberas Jombang